Padang – Lari marathon, yang selama ini dikhawatirkan berdampak buruk bagi otak, ternyata justru menunjukkan kemampuan adaptasi otak yang luar biasa. Studi terbaru mengungkap, lari sejauh 42 kilometer tidak merusak otak, melainkan melatih fleksibilitas metabolik organ vital tersebut.
Penelitian yang dipimpin oleh Profesor Carlos Matute dari University of the Basque Country (EUH) ini, melibatkan pemindaian otak 10 pelari berusia 45–73 tahun menggunakan MRI canggih. Pemindaian dilakukan 24–48 jam sebelum dan sesudah marathon, serta beberapa peserta dipindai ulang setelah dua minggu dan dua bulan.
Fokus utama penelitian ini adalah *myelin water fraction* (MWF), yang mengukur jumlah air di dalam lapisan myelin, selubung lemak pelindung serabut saraf. Penurunan MWF signifikan terjadi pada 12 area materi putih otak yang mengirim sinyal gerakan dan sensorik. Penurunan terbesar tercatat pada *pontine crossing tracts* (28%) dan *corticospinal tracts* (26%).
Namun, tidak ditemukan perubahan pada volume otak atau pola hidrasi, sehingga penurunan MWF bukan disebabkan oleh dehidrasi. Profesor Matute menyebut fenomena ini sebagai “metabolic myelin plasticity.” Ia berpendapat, otak menggunakan lipid dari myelin sebagai sumber energi saat kadar glukosa menurun selama lomba marathon.
Temuan ini sejalan dengan penelitian pada hewan, yang menunjukkan bahwa sel oligodendrosit dapat memobilisasi asam lemak untuk mendukung neuron saat menghadapi stres metabolik. Mengingat myelin terdiri dari 70–80% lemak, pemanfaatannya sebagai cadangan energi menjadi logis.
Meski terjadi penurunan myelin, penelitian ini tidak mengukur fungsi kognitif seperti memori atau fokus. Penurunan myelin ini dianggap sebagai respons fisiologis sementara, bukan kerusakan permanen. Sebagian besar penelitian sebelumnya justru menunjukkan bahwa aktivitas fisik rutin meningkatkan kecepatan berpikir dan daya ingat seiring bertambahnya usia.
Kabar baiknya, otak pulih dengan cepat setelah marathon. Dua minggu setelah lomba, MWF mulai naik, meski belum sepenuhnya normal. Dalam dua bulan, MWF kembali ke tingkat awal, menunjukkan myelin telah diperbaiki.
Profesor Matute menegaskan, lari marathon tidak berbahaya bagi otak. “Sebaliknya, penggunaan dan penggantian myelin sebagai cadangan energi bermanfaat karena melatih mesin metabolik otak,” ujarnya.
Meski demikian, penelitian ini memiliki keterbatasan, seperti sampel yang relatif kecil (10 pelari) dan didominasi usia lanjut. Penelitian lebih besar dengan tes kognitif akan membantu memahami perbedaan individu, termasuk riwayat latihan, pola pemulihan, dan status kesehatan.







