Padang – Komisi Integritas Badan Penegakan Hukum Malaysia (EAIC) mencopot seorang anggota tim khusus investigasi kasus naturalisasi tujuh pemain keturunan Timnas Malaysia yang disanksi FIFA. Anggota tersebut dicopot karena terbukti memiliki konflik kepentingan.
Drama internal mewarnai babak baru investigasi EAIC dalam kasus dugaan naturalisasi palsu tujuh pemain keturunan Malaysia.
Datuk Seri Yusof Ismail dicoret dari daftar anggota satuan tugas khusus. Sosoknya dinilai sebagai penyusup dalam tim investigasi.
Keputusan ini diambil saat rapat pertama EAIC. Mereka menemukan adanya konflik kepentingan pada diri Yusof Ismail.
Yusof Ismail diketahui juga merupakan anggota Komite Investigasi Independen bentukan Federasi Sepak Bola Malaysia (FAM).
EAIC sepakat memakai kerangka acuan (TOR) untuk memastikan proses investigasi dilakukan secara transparan, independen, dan berintegritas.
Tim khusus ini sebelumnya menargetkan dapat menyelesaikan investigasi kasus naturalisasi palsu tujuh pemain Timnas Malaysia dalam waktu tiga bulan.
Badan ini dibentuk untuk menyelidiki tuduhan bahwa FAM dan FIFA melakukan verifikasi dokumen tujuh pemain naturalisasi Malaysia.
“Satuan Tugas EAIC akan mencermati aspek integritas, tata kelola dan kepatuhan dalam pengelolaan dan verifikasi,” bunyi pernyataan resmi EAIC.
“EAIC berkomitmen untuk menyelesaikan investigasi dalam waktu tiga bulan,” lanjut pernyataan itu.
Investigasi tim khusus ini diharapkan dapat mengungkap hubungan penting dalam sistem aplikasi kewarganegaraan. Selain itu, juga mengklarifikasi peran otoritas terkait dan menilai adanya celah dalam manajemen naturalisasi pemain.
Dengan menyingkirkan ‘penyusup’, EIAC mengklaim semua pihak yang terlibat bekerja secara transparan.
Temuan dan hasil investigasi akan dipublikasikan ke publik. Publik menanti apakah tim khusus ini dapat membongkar akar masalah skandal naturalisasi Malaysia. Hal ini dinilai penting bagi sepak bola Malaysia.
FAM telah membawa kasus ini ke Pengadilan Arbitrase Olahraga Internasional (CAS). Namun, hal itu tidak berarti kasus ini selesai.
Alih-alih memenangkan banding atas sanksi FIFA, sepak bola Malaysia justru terancam sanksi yang lebih berat.
Sementara itu, satu per satu pemain naturalisasi mulai kehilangan pekerjaan di klub masing-masing karena dipecat.
Imanol Machuca, Rodrigo Holgado, dan Gabriel Palmero tercatat sudah diputus kontrak oleh klub mereka akibat skandal ini.
Facundo Garces masih coba dipertahankan Alaves, meski namanya sudah dicoret dari skuad musim ini.
Kelanjutan kasus naturalisasi palsu Malaysia yang menggemparkan sepak bola Asia Tenggara ini menarik untuk dinantikan.
Akankah Malaysia mampu terhindar dari sanksi FIFA atau justru mendapat hukuman yang lebih berat?

