www.domainesia.com
Web Hosting
www.domainesia.com

Di antara rumput dan lumpur

Nasional – Perdebatan publik mengenai kepekaan pejabat kembali mencuat setelah beredarnya sebuah foto figur publik di lapangan golf, di tengah derasnya kabar bencana alam yang melanda berbagai daerah. Gambar tersebut, meskipun kemudian diklarifikasi sebagai kegiatan penggalangan dana, memicu sorotan tajam karena dianggap merefleksikan jarak antara kekuasaan dan realitas penderitaan masyarakat luas.

Foto pejabat yang tampak tenang dengan stik golf di tangan, berlatar hamparan hijau lapangan, kontras dengan laporan banjir, rumah tenggelam, serta warga yang mengungsi dan menanti bantuan. Reaksi publik tidak hanya tertuju pada individu semata, melainkan lebih pada simbolisme lokasi yang lekat dengan privilese dan keterpisahan sosial.

Web Hosting

Sejak awal, golf memang bukan sekadar olahraga, melainkan gaya hidup yang lahir dari kelapangan dan bagi mereka yang tidak diburu oleh kebutuhan mendesak. Di Skotlandia abad ke-15, pemain golf adalah kaum yang tidak perlu memikirkan panen esok atau harga gandum minggu depan, menandakan bahwa golf telah lama menjadi permainan kaum elite karena syarat sosialnya yang tidak murah.

Lapangan golf juga merepresentasikan alam yang sudah “diseleksi” dan dikendalikan, di mana rumput dipotong seragam, tanah diratakan, dan air diatur. Segala sesuatu berada dalam kendali, bahkan kegagalan pun tampak sopan. Barangkali di sinilah golf bersinggungan dengan kekuasaan, yang sama-sama membutuhkan jarak dari kerumunan, kegaduhan, dan rasa tergesa, serta bekerja paling nyaman ketika dunia tampak tertib dan bisa diprediksi.

Klarifikasi pun datang, menyatakan pejabat tersebut tidak sedang bermain golf melainkan menggalang donasi. Penjelasan ini masuk akal dan patut diapresiasi. Namun, publik tidak hanya hidup dari logika semata, melainkan juga dari rasa. Dan rasa seringkali bekerja lebih cepat dan lebih kuat daripada akal.

Masalah utamanya bukan pada niat, karena niat baik hampir selalu ada dalam setiap pernyataan. Yang dipersoalkan adalah kepekaan, tentang kapan dan di mana sesuatu dilakukan. Ini menyangkut kesadaran bahwa ruang tidak pernah netral, terutama di negeri yang mudah terluka oleh ketimpangan.

Lapangan golf, betapapun terbukanya, bukanlah ruang biasa. Ia adalah ruang yang sudah lama didefinisikan sebagai milik segelintir orang. Ketika kekuasaan muncul di ruang semacam itu, publik dapat membaca pesan yang mungkin tidak dimaksudkan: jarak yang terlalu jauh dari lumpur dan penderitaan nyata.

Bencana adalah peristiwa ketika alam menolak dikendalikan, datang tanpa izin, mengacaukan rencana, dan memaksa manusia berhadapan dengan ketidakpastian. Golf justru sebaliknya, ia adalah perayaan keteraturan di mana segalanya terukur, bahkan jarak menuju lubang sudah dihitung sejak awal. Ketika dua dunia ini bertemu dalam satu waktu, kontrasnya menjadi tajam. Hijau yang rapi berhadapan dengan air yang keruh, ketenangan berhadap-hadapan dengan kepanikan.

Publik sebenarnya tidak menuntut pejabat untuk berkubang lumpur atau meminta simbol penderitaan yang berlebihan. Yang diharapkan hanyalah kesadaran akan suasana. Bahwa di tengah bencana, kenyamanan dapat mudah terbaca sebagai ketidakpedulian, betapapun niatnya baik.

Dalam zaman visual seperti sekarang, satu gambar bisa mengalahkan seribu penjelasan. Gambar bekerja tanpa kata, menempel di ingatan, dan membentuk kesan yang sulit dihapus. Klarifikasi datang belakangan, seringkali sudah terlambat.

Golf akan tetap dimainkan, lapangan hijau akan terus dirawat, dan bencana pun, sayangnya, akan terus datang. Yang menjadi soal bukanlah olahraga atau donasi, melainkan jarak. Jarak antara yang memegang stik dan yang kehilangan rumah. Jarak antara dunia yang bisa ditata dan dunia yang runtuh sewaktu-waktu.

Di negeri ini, barangkali yang paling dibutuhkan dari kekuasaan bukan sekadar keputusan cepat atau bantuan besar, melainkan kepekaan kecil: tahu kapan harus hadir, dan tahu di mana seharusnya berdiri. Sebab di antara rumput yang rapi dan lumpur yang menggenang, seringkali yang dipertaruhkan bukan citra semata, melainkan rasa keadilan.

Web Hosting