www.domainesia.com
Web Hosting
www.domainesia.com

Xabi Alonso Pertimbangkan Madrid, Ruang Ganti Bergejolak

Padang – Riak persoalan internal Real Madrid mencuat setelah kekalahan 1-0 dari Liverpool pada laga keempat kualifikasi grup Liga Champions Eropa musim 2025/26 di Stadion Anfield. Salah satu isu utama adalah hubungan antara Pelatih Xabi Alonso dengan sejumlah pemain kunci.

Ketegangan sebenarnya sudah terlihat saat El Clasico melawan Barcelona di Stadion Santiago Bernabeu. Vinicius menunjukkan kekesalannya saat ditarik keluar lapangan oleh Alonso dalam laga yang dimenangkan Madrid 2-1.

Web Hosting

Aksi Vinicius yang langsung menuju ruang ganti, alih-alih bergabung dengan pemain lain di bangku cadangan, memicu spekulasi keretakan dengan Alonso.

Meski Vinicius kemudian meminta maaf secara terbuka, kejadian ini menyoroti bahwa pengaruh Alonso belum sepenuhnya kuat dalam mengatur ruang ganti yang dihuni bintang-bintang Madrid.

Alonso menghadapi tantangan berat dalam menerapkan filosofi permainannya. Penerapan filosofi tim bisa efektif jika para pemain bintang terkontrol dengan baik. Protes dari pemain dapat menghambat implementasi filosofi tersebut.

Kekalahan dari Liverpool semakin memperburuk suasana. Taktik Alonso disebut-sebut membuat beberapa pemain tidak puas dengan gaya kepelatihannya. Disiplin ala Alonso, yang bertujuan baik untuk tim, justru menciptakan atmosfir yang kurang harmonis.

Bahkan, muncul komentar sinis dari ruang ganti yang menyebut Alonso merasa seperti “Pep Guardiola”, padahal ia hanyalah “Xabi Alonso”.

Alonso memiliki misi besar untuk mengembalikan kejayaan Madrid setelah musim lalu tanpa gelar. Presiden klub Florentino Perez memilihnya, setelah sukses dengan Bayer Leverkusen, untuk menggantikan Carlo Ancelotti.

Misi ini tidak mudah. Alonso harus menghadapi pemain bintang seperti Vinicius, Jude Bellingham, F. Valverde, Rodrygo, hingga Kylian Mbappe.

Manajemen Madrid selalu menekankan bahwa pelatih harus mempersembahkan gelar dengan cara apa pun. Contohnya, pemilihan Jose Mourinho dengan taktik “parkir bus” untuk meredam dominasi Barcelona di bawah Pep Guardiola.

Madrid lebih mengutamakan pelatih yang bisa mengatur pemain bintang untuk meraih gelar, daripada terpaku pada satu filosofi permainan.

Kesuksesan pelatih sebelumnya terletak pada kemampuan membangun hubungan baik dengan pemain bintang. Zinedine Zidane, yang minim pengalaman, berhasil membangun relasi positif dengan Cristiano Ronaldo dan mempersembahkan tiga trofi Liga Champions berturut-turut.

Carlo Ancelotti juga membangun hubungan baik dengan pemain senior seperti Toni Kroos dan Luka Modric, serta memberikan kepercayaan besar kepada Vinicius Jr.

Para pelatih tersebut mengedepankan relasi dengan pemain bintang daripada memaksakan ide dan filosofi kepelatihan. Hubungan yang baik di luar lapangan tercermin dalam performa di lapangan.

Inilah tantangan Alonso. Ketidaknyamanan pemain terhadap keputusan dan gaya kepelatihannya dapat memicu ketidakharmonisan dan ketidakstabilan tim.

Alonso berada di persimpangan jalan: menerapkan filosofi tim secara ketat dengan mengorbankan peran pemain bintang, atau membangun relasi dengan pemain bintang dan mengesampingkan filosofi permainannya.

Di tengah guncangan ini, Alonso hanya punya satu cara untuk mempertahankan posisinya, yaitu meraih gelar musim ini.

Tanpa gelar, meski permainan tim atraktif, nasib Alonso bisa berakhir. Sebaliknya, gelar tanpa permainan atraktif akan menyelamatkan posisinya, karena manajemen Madrid lebih mengutamakan trofi daripada filosofi permainan.

Setiap pelatih boleh membawa filosofi permainannya ke Madrid, asalkan menghasilkan trofi. Relasi yang baik dengan pemain bintang juga penting untuk menciptakan performa tim yang solid dan meraih juara.

Alonso harus memilih: mempertahankan idenya dengan risiko hubungan yang buruk dengan pemain, atau berdamai dengan situasi dan mengesampingkan idenya sebagai pelatih.

Web Hosting