www.domainesia.com
Web Hosting
www.domainesia.com

Angelique Widjaja Soroti Mandeknya Kemajuan Tenis Indonesia

Jakarta – Mantan petenis Indonesia, Angelique Widjaja, menyoroti stagnasi perkembangan tenis di Tanah Air, menyebut kondisi saat ini serupa dengan era 2000-an.

Menurutnya, untuk menjadi atlet profesional, persiapan harus komprehensif, meliputi talenta dan dukungan finansial yang memadai.

Web Hosting

“Misalnya, talenta atau keahlian yang tinggi, tapi tidak didukung dengan finansial yang cukup, itu juga enggak akan bisa,” ujarnya melalui sambungan telepon pada Rabu, 27 Agustus 2025.

Angelique, yang kini berusia 40 tahun, menganalogikan atlet profesional seperti prajurit yang akan berperang, membutuhkan “amunisi” berupa dana untuk bertanding. Ia menyayangkan minimnya kompetisi di dalam negeri.

Dukungan finansial krusial untuk memfasilitasi perjalanan ke kompetisi. “Di luar itu, misalnya punya dana, tapi talent-nya kurang, itu juga enggak bisa. Jadi untuk menjadi seorang atlet, paket itu harus komplet,” imbuhnya.

Ia bersyukur atas dukungan finansial dari orang tuanya di awal kariernya, yang berperan penting dalam mengembangkan talentanya. “Misalnya saya, diberikan talenta oleh Tuhan, saya diberikan orang tua yang mampu men-support saya mengikuti pertandingan di awal,” tuturnya.

Saat masih di level junior, Angelique mengaku belum ada dukungan finansial dari pemerintah maupun sponsor. Ketersediaan dana mandiri menjadi kunci untuk berlaga di kompetisi. “Intinya ketika kita masih junior, itu semua buang dana terus, karena kan enggak dapat apa-apa. Kalau sudah profesional, baru kita dapat plus money,” jelasnya.

Hal ini menjadi salah satu faktor lambatnya regenerasi petenis Indonesia hingga munculnya pemain potensial seperti Janice Tjen.

Janice Tjen mencuri perhatian setelah tampil di Grand Slam US Open 2025, menjadi petenis tunggal putri Indonesia pertama yang berlaga di ajang tersebut sejak Angelique 21 tahun lalu.

Angelique mengaku sering mendengar keluhan petenis muda mengenai kesulitan finansial untuk membiayai pertandingan, serta masalah tim kepelatihan.

“Menurut saya kenapa waktu jedanya panjang banget dari generasi saya sampai ke sekarang ini, dari yang saya ngobrol dengan junior-junior di bawah saya, mereka itu kebanyakan kendala di masalah finansial,” kata mantan petenis kelahiran Bandung ini.

Ia melihat banyak atlet tenis berbakat yang kekurangan “amunisi” untuk bertanding, sehingga akhirnya putus asa. “Kan buat apa sepanjang tahun saya latihan terus, tapi saya tidak bisa bertanding. Tujuannya apa?” keluhnya. “Kasihan sih, sebenarnya.”

Angelique mengenang dukungan negara terhadap atlet tenis di Cina, meliputi pelatih fisik, tempat tinggal, hingga pertandingan.

Setelah mencapai level profesional, petenis Cina memiliki kesempatan sendiri, dengan sebagian “plus money” dipotong untuk negara. “Menurut saya, itu adil, sih. Very enough. Mungkin itu yang berbeda dari dulu dengan negara kita,” ucapnya.

Menurutnya, Indonesia masih kurang dalam memberikan dukungan untuk melahirkan atlet tenis, sehingga banyak atlet yang cepat menyerah. “Udah deh, gue mau jadi apa begini terus? Gue juga enggak bisa hidup. One day, ke depan ini juga akan menjadi pekerjaan profesi,” ujarnya. “Menurut saya, talenta itu banyak, apalagi putri, tapi tidak punya kesempatan bisa sampai ke sana.”

Janice Tjen, yang lolos ke babak utama US Open 2025 melalui babak kualifikasi, sempat mengalahkan Veronika Kudermetova di babak pertama sebelum akhirnya dikalahkan Emma Raducanu di babak kedua. Pencapaiannya menjadi catatan sejarah bagi tenis Indonesia dan menumbuhkan harapan baru.

Web Hosting