www.domainesia.com
Web Hosting
www.domainesia.com

MotoGP 2025 dapat kritikan pedas, banyaknya penalti yang diberikan hingga rindu Simoncelli

Jakarta – Mantan pembalap dunia Virginio Ferrari melayangkan kritik pedas terhadap ajang MotoGP 2025, menyebutnya “menjengkelkan” untuk ditonton. Peraih posisi kedua kelas 500cc pada tahun 1979 itu menyoroti gaya balap modern yang mengganggu serta banyaknya penalti yang kerap merugikan pembalap sebagai penyebab utama ketidakpuasannya.

Ferrari, pembalap asal Italia, mengaku secara pribadi sulit menikmati balapan kelas premier era modern. Ia bahkan tidak selalu betah menonton di televisi karena banyak hal yang dianggapnya tidak sesuai dengan prinsip balap yang ia pegang.

Web Hosting

“Terlalu banyak hal yang tidak saya sukai, jadi saya tidak selalu betah menonton balapan di televisi,” ungkap Virginio Ferrari. Ketika ditanya pendapatnya mengenai musim balap 2025, ia menjawab, “Hanya sedikit yang saya suka, karena terlalu banyak hal yang menjengkelkan bagi saya. Itulah mengapa saya tidak selalu menonton setiap balapan.”

Kritik soal Gaya Balap Modern
Keluhan utama Ferrari adalah teknik balap modern yang mengharuskan pembalap menurunkan kaki saat mengerem. Menurutnya, hal ini berbeda jauh dengan eranya, di mana kedua kaki harus tetap berada di motor hingga berhenti total.

“Hal pertama yang tidak saya sukai adalah kaki yang dikeluarkan saat pengereman. Saya tidak tahan melihatnya,” ujarnya. “Saya sangat yakin jika kedua kaki tetap berada di pijakan kaki, motor akan jauh lebih mudah dikendalikan saat posisi motor sedikit miring di batas maksimal pengereman. Namun, ini tentu saja pendapat pribadi saya.”

Teknik menurunkan kaki saat mengerem, atau yang dikenal sebagai The Leg Dangle, sebenarnya memiliki alasan ilmiah. Jurnalis teknis Mat Oxley menyebut bahwa teknik ini berfungsi untuk menurunkan pusat gravitasi dan menciptakan hambatan udara, sehingga motor lebih stabil saat melambat ekstrem. Selain itu, pemasok rem MotoGP, Brembo, menjelaskan bahwa teknik ini membantu pembalap menyeimbangkan distribusi berat badan agar motor lebih mudah diarahkan masuk ke tikungan.

Aturan yang Terlalu Ketat
Selain gaya balap, Ferrari juga mengkritik kebiasaan penyelenggara yang sering memberikan sanksi atas kontak antar pembalap. Ia merasa peraturan seperti hukuman putaran tambahan (long lap penalty) membuat balapan terasa aneh.

“Peraturan yang sering memberikan penalti, seperti hukuman putaran tambahan (long lap penalty), membuat balapan terasa aneh,” tegasnya. “Dulu, persaingan sengit di lintasan selalu diselesaikan antar pembalap sendiri, bukan oleh pihak ketiga. Itulah pemikiran saya.”

Meski demikian, Ferrari tidak menampik kekagumannya terhadap perkembangan teknologi motor di kelas MotoGP. “Apa yang saya suka? Tenaga motor yang terus meningkat setiap tahun dan catatan waktu putaran yang semakin cepat. Hanya itu saja,” katanya.

Kerinduan pada Marco Simoncelli
Di tengah berbagai hal yang kurang disukai, Ferrari mengaku merindukan sosok pembalap dengan karakter kuat di MotoGP. Ia menyebut mendiang Marco Simoncelli, pembalap Italia yang meninggal pada 2011, sebagai sosok yang membuatnya bersemangat dengan gaya balapnya yang berani dan menarik.

“Pembalap yang membuat saya bersemangat? Sayangnya, dia sudah tiada. Orang yang benar-benar membuat saya kagum adalah Sic (Simoncelli),” pungkasnya.

Web Hosting